Asal Mula Bandung

Wilayah yang sekarang kita sebut Bandung pertama kali masuk peta pada waktu Gubernur Jendral Daendles membangun Grootepostweg (Jalan Pos) di tahun 1810. Waktu itu Bandung bernama Kabupaten Tatar Ukur.

Daendels memerintahkan Bupati Tatar Ukur memindahkan ibukota Kabupatennya dari Krapyak ke arah utara sejauh 11 km sehingga pas berada di tepi Grootepostweg yang berpotongan dengan Sungai Cikapundung. Bupati Tatar Ukur waktu itu R. Wiranata Koesoemah IImenyebut kabupaten baru ini dengan nama Bandong dengan ‘pusat pemerintahannya’ yang masih sangat sederhana di daerah Dalem Kaum sekarang. Beliau sendiri berjuluk Dalem Karanganyar.

Ada beberapa versi ibukota Kabupaten baru ini dinamakan Bandong. Yang pertama, adalah dari kata “bandung” yang dalam bahasa sunda artinya membendung aliran air, karena memang telah terjadi pembendungan sungai Citarum akibat letusan Gunung Tangkubanparahu dimana aliran lahar gunung menyumbat sungai sehingga terbentuk telaga yang luas. Yang kedua, dari kata “ngabandung” yang artinya berhadapan atau berdampingan, Talaga Purba Bandung bila dilihat dari Gunung Tangkubanparahu tampak seperti 2 danau yang berhadapan karena adanya penyempitan tepi danau di daerah Cimahi Selatan.

Pada dasarnya asal usul nama Bandung ini banyak sekali versinya.

Dalam buku tulisan Haryoto Kunto, dapat ditemukan bahwa kata Bandung, berasal dari kata Bandong, sesuai dengan penemuan sebuah negeri kecil oleh seorang Mardijker bernama Julian de Silva. Dan tercatat pula bahwa Dr. Andries de Wilde, seorang pemilik kebun kopi yang sangat luas di daerah ini, meminang seorang gadis dan kemudian menikahinya yang berasal dari Kampung Banong (di daerah Dago Atas).

Malah ada pula yang berpendapat Kata Bandung berasal dari sebuah nama pohon Bandong ‘Garcinia spec’ (Heyne : 1950 Jilid III, pada halaman 2233, menyebutkan bahwa Bandong ‘Garcinia spec’ sejenis pohon yang tingginya 10 – 15 m dan besar batangnya 15 – 20 cm, dengan batang tak bercabang. Pohon ini dieksploitasi setelah berumur 20 – 30 tahun, dengan cara menoreh kulit kayu sedalam 2 – 3 mm akan mengalirkan cairan kekuning-kuningan. Menurut Wiesner’s Rohstoffe digunakan untuk pengobatan, mewarnai pernis-pernis spirtus, lak emas ‘goudlak’, cat air dan fotografi. Jadi nama Bandung berasal dari Bandong yang sesuai dengan sebuah nama kampung yang telah ditemukan oleh seorang Mardijker bernama Julian de Silva di atas. (http://sundasamanggaran.blogspot.com)

Menurut penulis buku Wisata Bumi Cekungan Bandung, T. Bachtiar, Bandung juga artinya adalah persahabatan/perdamaian. Berasal dari Bahasa Kawi, Bandung artinya bersama-sama, bersahabat, bersaing, mendampingi, dan saling tolong menolong.

Sebuah sejarah adalah sebuah proses yang panjang. Diceritakan dari mulut ke mulut. Kadang ditambahin, kadang dikurangin. Pada akhirnya banyak versi yang muncul menyertai perjalanan suatu sejarah sehingga kadang rancu mana yang benar dan mana yang salah. Tugas Mahanagari adalah menyampaikan berbagai macam versi tersebut, bukan memberitahu bahwa sejarah yang benar adalah ‘ini’ dan yang salah adalah ‘itu.

Written by Nurul Wachdiyyah

Foto : Grootepostweg (sekarang jl. Asia Afrika) – Alun-alun Bandung.

Sumber tulisan : dari berbagai sumber (buku-bukunya Haryoto Kunto, berbagai situs internet dan T. Bachtiar)

Sumber : http://www.mahanagari.com/index.php?option=com_content&view=article&id=288:asal-usul-nama-bandung&catid=1:cerita-bandung&Itemid=91

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>